Jumat Sore, Rapai Reuhat Tuha Tampil di PKA

REUHATTUHA..DESA.ID Sanggar Seni  Rapai Geleng  Lada Sicupak Gampong Reuhat Tuha  dijadwalkan akan tampil menghibur para pengunjung di arena anjungan Kabupaten Aceh Besar Pekan Kebudayaaan Aceh yang ke 7 pada Jumat sore. Sanggar yang anggotanya terdiri dari para remaja gampong yang masih usia sekolah ini sebelumnya juga pernah tampil pada lapangan Bungong Jeumpa dalam rangka Ulang Tahun Kota Jantho. Menurut Pembina sanggar, Tim Rapai Geleng ini sudah 2 tahun terbentuk dan telah banyak menghibur masyarakat seperti pada acara – acara seremonial, pesta pernikahan, dan lain sebagainya. Alhamdulillah tahun ini kita diundang berkesempatan tampil pada ajang budaya 5 tahunan terbesar di Aceh ini,yaitu Pekan Kebudayaan Aceh, ungkapnya.

Penamaan sanggar Seni ‘Lada Sicupak ‘ sendiri merujuk kepada sebuah meriam sepanjang dua meter dengan balutan kain putih tampak gagah di bawah atap seng yang dipugar di Desa Blang Balok, Kecamatan Peureulak Kota, Aceh Timur. Meriam itu  menyimpan sejuta kenangan bagi para laskar Aceh, yang berperang saat melawan kaum kolonial Portugis dan Belanda. Meriam yang sudah dikilatkan dengan minyak itu, salah satu bukti sejarah mengendus jejak bangsa Turki di bumi Peureulak, bekas kerajaan Islam yang pernah tersohor dahulu.Meriam itu diberi nama dengan sebutan “Meriam Lada Sicupak” yang dibeli dari negeri Turki oleh sepuluh laskar Kerajaan Aceh di bawah komando Panglima Nyak Dum. Penambalan nama Lada Sicupak lantaran meriam itu satu unitnya seharga sicupak lada yang diangkut dengan kapal dari Aceh.Dulu, banyak yang tidak tahu tentang keberadaan “Meriam Lada Sicupak” ini, meski tempatnya hanya sekitar 3 Km dari jalan raya di Desa Blang Balok, Peureulak Kota. Arah masuknya persis di bawah jembatan trans nasional Kampung Beusa tembus ke Kuala Beukah.  Meriam itu berdasarkan cerita sejarah, sudah ada di bumi Aceh sejak Tahun 1.568 M. Ada pula yang menyebutkan sudah ada pada abad ke 16.

Konon kabarnya senjata canggih tersebut dibeli pada masa Sulthan Alighayatsyah Al-Kahar. Masa itu, sebanyak sepuluh orang laskar (tentara) diutus untuk membeli meriam di negara Turki, termasuk di dalamnya Panglima Nyak Dum. Menurut Yahwan, selama pengamatannya memang tidak ada merk khusus yang dibuat oleh asal perusahaan meriam Turki. Dulu laskar yang dipimpin oleh Panglima Nyak Dum dalam perjalanan ke Turki sempat terombang ambing di lautan hingga pernah terdampar ke India, bahkan lada yang dibawa untuk membeli meriam banyak yang terjatuh dan digunakan untuk membeli kebutuhan makanan. Di seluruh Aceh meriam itu ada 25 unit.

Pelaksanaan PKA kali ini akan mengangkat kembali seluruh khazanah kebudayaan masyarakat Aceh dari berbagai etnis yang ada di Aceh, baik dalam bentuk adat-istiadat, seni budaya, khazanah peninggalan sejarah Aceh, hingga berbagai produk kerajinan dari berbagai daerah di Aceh. Tujuannya agar masyarakat dan generasi muda Aceh dapat mengetahui kekayaan dan keaslian budayanya sendiri, di samping memperkuat status Aceh sebagai destinasi wisata budaya kepada mancanegara. ( BQ )

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan