Ini Penyebab Tsunami Selain Gempa Tektonik

REUHATTUHA.DESA.ID- Menurut Undang – Undang Tentang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, defenisi bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Indonesia memang tak lepas dari bencana alam, karena secara geologis Indonesia terletak diantara pertemuan tiga lempeng dunia yaitu Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik sehingga bencana alam seperti longsor, gunung api, terlebih gempa bumi, bahkan tsunami akan menghampiri kita. Jika kita lihat di Google Earth terdapat garis-garis palung dan pengunungan baik di darat dan laut Indonesia. Garis ini terbentuk akibat pertemuan dan perpisahan dua pelat ( lempeng )  benua. Di Indonesia, garis ini dapat dijumpai dari utara Pulau Sumatera ke selatan Pulau Sumatera, kemudian selatan Pulau Jawa, selatan Nusa Tenggara, celah Timor, hingga ke laut Banda. Garis ini terjadi akibat pertemuan pelat ( lempeng)  Australia dan Eurasia. Di utara Indonesia terdapat jalur dari timur Filipina berlanjut ke bawah hingga Laut Banda kemudian belok ke timur di atas Papua. Garis inilah yang menjadi jalur utama antara Pelat Pasifik, Filipina, dan Australia. Dengan kata lain Laut Banda menjadi tempat yang paling dinamis karena menjadi pertemuan tiga pelat besar. Garis lainnya bisa dijumpai di kawasan Laut China Selatan, Laut Sulawesi, dan kawasan Laut Irian. Ketiga wilayah di atas juga digolongkan sebagai kawasan yang dinamis karena terdapat banyak palung dan gunung berapi. Garis inilah yang kemudian dinamakan sebagai Ring of Fire.

Baru saja, kita melihat saudara-saudara kita tertimpa musibah tsunami yang menerjang pantai di daerah Pandeglang, Banten, dan Lampung Selatan pada Sabtu (22/12/2018) malam pukul 20.27 WIB. Belum lagi beberapa bulan yang lalu musibah tsunami juga terjadi di Palu dan masih segar juga ingatan kita sebelum tsunami Palu, Gempa Lombok juga memakan korban yang tak sedikit. Itu hanya sebagian bencana alam yang terjadi pada saudara-saudara kita di Indonesia, belum lagi bencana non alam yang lainnya seolah silih berganti menghampiri negeri makmur Indonesia.

Hasil diskusi dan penelusuran dari berbagai sumber yang dihadiri oleh tenaga pengajar pada Komunitas Belajar pada Sibreh Learning Centre Aceh mengungkapkan bahwa tsunami tidak hanya terjadi akibat gempa bumi ( aktivitas tektonik ) saja, namun terdapat penyebab lain yang menyebabkan tsunami itu sendiri. Memang banyak penyebab tsunami itu diawali dengan gempa bumi sehingga kita berfikiran bahwa hanya gempa saja penyebab tsunami, padahal tidak seperti itu. Tsunami sendiri berasal dari bahasa Jepang yaitu  tsu yang berarti  pelabuhan dan nami yang berarti  gelombang. Secara harfiah, tsunami diartikan sebagai “ombak besar di pelabuhan” yaitu perpindahan badan air yang disebakan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Khusus tsunami yang menerjang pantai di daerah Pandeglang, Banten, dan Lampung Selatan, Lewat akun Twitternya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan penyebab tsunami yang melanda pantai di kawasan Selat Sunda bukanlah karena gempa tektonik. Namun, kemungkinan adanya longsor bawah laut pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau bersamaan dengan adanya gelombang pasang akibat bulan purnama,” tulis Sutopo.

Kita dapat melihat Letusan Gunung Krakatau 1883 terjadi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang menyebabkan tsunami besar di Samudera Pasifik hingga ke Amerika Selatan. Letusan bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 (dengan gejala pada awal Mei) dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera. Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.

Menurut Vulkanolog ITB Mirzam Abdurrachman Letusan Krakatau, Gunung asal Anak Krakatau, pernah menyebabkan tsunami pada 26-27 Agustus 1883. Pemicunya kala itu ada dua mekanisme.

Pertama, kolom air runtuh akibat letusan gunung api yang berada di laut. Mirzam menganalogikannya dengan, meletuskan balon pelampung di dalam kolam yang menyebabkan riak air di sekitarnya. Pada erupsi 1883, juga terjadi pembentukan Kaldera akibat letusan besar gunung Krakatau. Hal ini menyebabkan perubahan keseimbangan volume air secara tiba-tiba.”Menekan gayung mandi ke bak mandi kemudian membalikannya adalah analogi pembentukan kaldera gunung api di laut” papar Mirzam memberi ilustrasi.

Ada pula dua mekanisme lain gunung api yang menyebabkan tsunami. Yang pertama longsor. Material gunung api yang longsor bisa menyebabkan perubahan volume air di sekitarnya. Menurut Mirzam, tsunami tipe ini pernah terjadi di Gunung Unzen Jepang 1972, banyaknya korban jiwa saat itu hingga mencapai 15.000 jiwa. Karena pada saat yang bersamaan sedang terjadi gelombang pasang. Yang kedua aliran piroklastik, orang terkadang menyebutnya wedus gembel, bisa mendorong muka air jika gunung tersebut berada di atau dekat pantai.

Dapat disimpulkan ada beberapa penyebab tsunami yang terjadi di dunia ini jika dikaji secara ilmu pengetahuan ( science ) yaitu :

1. Gempa Bawah Laut

( kedalaman dibawah dari 30 KM,Kekuatan gempa minimal 6.5SR )

Gempa bumi yang terjadi di bawah laut merupakan penyebab paling umum terjadinya tsunami. Gerakan vertikal pada kerak bumi (gempa) dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang menyebabkan gangguan keseimbangan air yang ada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi laut, yang ketika sampai di pantai menjadi tsunami.

2.   Letusan Gunung Api

Gunung berapi tersebar hampir di seluruh penjuru dunia. Letusan dari gunung berapi itu menyebabkan terjadinya gempa vulkanik (gempa yang terjadi karena letusan gunung berapi). Meskipun sangat jarang terjadi, tsunami yang disebabkan letusan gunung merapi sangat dahsyat. terlebih jika gunung api yang berada dibawah laut

3.  Longsor Bawah Laut

Longsor bawah laut terjadi akibat tabrakan antara lempeng benua dan lempeng samudra yang disebabkan oleh gempa dan peubahan air laut. Proses ini membentuk palung laut secara tiba-tiba yang berpengaruh pada pergerakan volume air yang mendadak. Pada skala tertentu menyebabkan tsunami.

4. Hantaman Meteor

Tsunami juga dapat disebabkan oleh meteor yang jatuh di atas laut. Penggambarannya kira kira seperti melempar bola bowling ke atas kolam renang yang menyebabkan rentetan gelombang yang cukup besar di tepi kolam. Selain itu, meteor yang jatuh ke permukaan laut juga menyebabkan ketidakseimbangan lempeng bawah laut yang menimbulkan gempa. Hal ini jarang terjadi, namun akibatnya adalah tsunami yang sangat besar.

5.  Ulah manusia

Sebagai mahluk dalam strata paling tinggi klasifikasi organisme, manusia juga membawa potensi perusakan bumi lebih besar. Misalnya dalam pengujian senjata untuk perang seperti bom nuklir. Jika pengujiannya dilakukan di lautan, hal ini berpotensi menimbulkan gempa bawah laut yang berpotensi mendatangkan tsunami. Meskipun belum ada kejadian yang dikabarkan, namun para ahli sepakat jika hal itu sangat mungkin terjadi.

Penyebab – penyebab terjadinya tsunami ini juga dapat disaksikan pada LCD yang terpampang pada museum Kapal Apung di Banda Aceh. Namun walaupun Indonesia terletak pada wilayah intensitas bencana yang tinggi, justru bencana tersebutlah yang menjadikan Indonesia sebagai lahan yang subur dipenuhi dengan berbagai macam barang tambang yang dengan oleh getaran yang dihasilkan akan menaikkan / memunculkan berbagai macam  mineral. Mari kita menjaga Alam makmur Indonesia ini, karena menjaga menjaga alam adalah perpaduan dari kemampuan manusia menjaga sistim Allah dan juga menjaga sistim alam.

( Dikutip dari berbagai sumber )

Penulis adalah Baihaqi, Direktur Komunitas Belajar Sibreh Learning Centre ( Sebuah lembaga pendidikan berbasis sosial di Aceh Besar )  dan tenaga pendidik pada STIS NU Aceh

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan